Parenting dan Anak
Ancaman Kekerasan pada Anak : Kekerasan Fisik dan Pengaruhnya pada Anak Usia Dini

Ancaman Kekerasan pada Anak : Kekerasan Fisik dan Pengaruhnya pada  Anak Usia Dini
Tanda-tanda kekerasan terhadap anak tidak selalu nampak jelas, dan mungkin tidak akan memberi tahu siapapun mengenai apa yang terjadi pada mereka. Namun, korban kekerasan fisik bisa diedukasi, diberikan pendampingan, dan terapi untuk memulihkan psikisnya.

Jumlah kekerasan terhadap anak setiap tahunnya cenderung meningkat. Media massa kerap mengungkap berbagai kasus kekerasan terhadap anak. Namun, masih banyak yang menutupi atau tidak melaporkannya.
 
Pelaku yang melakukan kekerasan pada anak biasanya adalah orang terdekat, yaitu keluarga dan pengasuh. Kadang, kekerasan diterima secara sosial karena dianggap sebagai bagian normal dari pertumbuhan dan perkembangan anak.
Perilaku orang tua berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak ber-gender sama. Anak perempuan lebih banyak mendapat kekerasan dari ibunya, dibandingkan kekerasan oleh ayah. Begitu pula perilaku anak laki-laki yang terkait erat dengan pengalaman mereka bersama ayahnya.
Survei kekerasan terhadap anak di Indonesia pada kelompok umur 18 – 24 tahun yang mengalami kekerasan sebelum umur 18 tahun, menunjukkan dampak kesehatan yang muncul akibat tindakan itu. Perilaku dominan adalah perokok dan pemabuk, selain keinginan menyakiti diri dan bunuh diri.
Terry E. Lawson, seorang psikolog dan penulis buku Parenting: What We Need to Know to Make a Difference membagi kekerasan terhadap anak menjadi beberapa jenis, salah satunya kekerasan fisik (Physical Abuse).
Apa itu Physical Abuse (Kekerasan Fisik)?

  • Terjadi ketika orang tua atau pengasuh memukul/menjewer/mencubit dan melakukan perbuatan yang menyakitkan fisik lainnya. Biasanya, dilakukan untuk mengondisikan anak sesuai keinginan orang tua atau saat anak ingin sesuatu.
  • Anak dapat mengingat kekerasan fisik yang dilakukan terhadapnya.
  • Penelitian University of Wisconsin menemukan bahwa anak yang memiliki kekerasan fisik memiliki amigdala dan hippocampus yang lebih kecil pada usia 12 tahun, daripada anak-anak tanpa riwayat stres. Mereka yang memiliki amigdala dan hippocampus terkecil juga memiliki masalah perilaku, seperti berkelahi atau bolos sekolah.
  • Amigdala terlibat dalam pengaturan emosi, pengambilan keputusan, juga pengaturan emosi, juga penting untuk pembentukan ingatan. Hippocampus yang lebih kecil pada anak-anak yang mengalami pelecehan, bisa menghadirkan rintangan untuk belajar dan menghambat pembelajaran di sekolah.
Tanda-tanda kekerasan terhadap anak tidak selalu nampak jelas, dan mungkin tidak akan memberi tahu siapapun mengenai apa yang terjadi pada mereka. Namun, korban kekerasan fisik bisa diedukasi, diberikan pendampingan, dan terapi untuk memulihkan psikisnya.
Dengan adanya beberapa kasus kekerasan ini diharapkan orang tua bisa menciptakan lingkungan yang aman. Harapannya agar kelak sang buah hati tumbuh menjadi anak yang cerdas akalnya dan mulia akhlaknya.








Parenting dan Anak Lainnya
Keluarga Berkah
Keluarga Berkah
Jum'at, 23 Mei 2014 07:51 WIB
sygmadayainsani.co.id - Keluarga Berkah - Benarkah ukuran bahagia ketika kita memiliki banyak harta, anak cerdas, istri yang cantik dan usaha yang sukses? Jika kita dihadapkan dua pilihan, lebih suka mana menjadi orang kaya, tapi sakit-sakitan atau miskin tetapi tidak pernah sakit? Tentu semua menja
Komunikasi Orang Tua Dengan Anak Remaja
Komunikasi Orang Tua Dengan Anak Remaja
Jum'at, 13 September 2013 02:30 WIB
Di artikel ini, kita akan membahas tentang komunikasi orangtua dengan anak remaja. Setiap manusia akan melalui tahapan tumbuh dan berkembang seusai bertambahnya usia. Setiap anak yang dilahirkan akan pula mengalami fase-fase tumbuh kembangnya. Bagi orang tua, setiap fase akan dijalani pula dengan me
Mendidik Anak Ala Positive Parenting
Mendidik Anak Ala Positive Parenting
Rabu, 02 Juli 2014 06:57 WIB
sygmadayainsani.co.id - Mendidik Anak Ala Positive Parenting - Tidakkah Anda akan merasa lebih baik ketika orang yang otoritasnya lebih tinggi dari Anda, misal, orangtua atau bos bisa berbicara dengan nada yang nyaman? Tidakkah Anda akan merasa lebih bisa menerima ajaran atau masukan dari guru atau
Solusi Mengatasi Kesulitan Mengenalkan Rasulullah Kepada Anak
Solusi Mengatasi Kesulitan Mengenalkan Rasulullah Kepada Anak
Sabtu, 06 Agustus 2016 12:50 WIB
Ayah Bunda, sosok Rasulullah di lingkungan kita semakin hari semakin memudar dikarenakan jarangnya menghadirkan sosok Rasulullah dikehidupan sehari-hari. Contohnya di televisi, radio, dan media cetak jarang sekali menampilkan suri tauladan yaitu Rasulullah. Sulitnya memperkenalkan Rasulullah ini menjadi problematika tersendiri. Kini anak-anak kita mencontoh sosok yang jauh dari agama Islam, bukankah itu bahaya ?

Perlu Bantuan?

Hai, Saya Suriksodi Saputro Anda memerlukan bantuan saat belanja produk? Asisten belanja Anda siap membantu Anda, atau Anda membutuhkan informasi lebih lengkap tentang produk-produk kami silahakan hubungi saya.

Hubungi Saya Tentang Saya